Beranda » Penerapan Digital Marketing pada UMKM di Singkawang: Belajar dari Keripik Nafisa
Beranda » Penerapan Digital Marketing pada UMKM di Singkawang: Belajar dari Keripik Nafisa
Penerapan Digital Marketing pada UMKM di Singkawang oleh Hanif Al Aslam

Penerapan Digital Marketing pada UMKM di Singkawang: Belajar dari Keripik Nafisa

Hanif Al Aslam, praktisi performance marketing dan ads specialist
Hanif Al AslamPerformance Marketing | Ads Specialist · Assistant Mentor Digital Marketing di Harisenin.comLihat profil penulis →

Di Singkawang, hampir setiap gang punya usaha makanan yang enak. Tapi coba cek di Google: berapa banyak dari mereka yang bisa ditemukan, dipesan, dan dipercaya hanya dari layar ponsel? Di sinilah banyak UMKM tertinggal. Produknya bagus, tetapi etalasenya masih terbatas pada rak toko dan obrolan dari mulut ke mulut.

Saya Hanif, praktisi performance marketing yang sehari-hari mengurus iklan, SEO, dan analitik. Salah satu tempat belajar saya adalah usaha yang dekat sekali dengan rumah: Keripik Nafisa Singkawang. Artikel ini membahas apa yang kami jalankan, alat apa yang dipakai, dan apa yang belum bisa kami simpulkan.

80,66%penetrasi internet Indonesia 2025 (APJII)
±65 jutaUMKM, penyumbang sekitar 61% PDB
±US$100 miliarnilai transaksi ekonomi digital Indonesia 2025 (Google, Temasek, Bain)

1. Tantangan UMKM Singkawang di Era Digital

Singkawang punya banyak usaha makanan dan oleh-oleh yang enak. Masalahnya bukan di rasa, melainkan di tiga hal: persaingan, jangkauan, dan kemampuan pemasaran.

Persaingan makin ramai karena berjualan daring semakin mudah. Laporan e-Conomy SEA 2025 mencatat jumlah penjual dan toko daring di Indonesia naik sekitar 75% dalam setahun, menjadi sekitar 800 ribu. Jangkauan sebagian besar UMKM masih terbatas pada rak toko, wisatawan yang kebetulan mampir, dan promosi dari mulut ke mulut. Sementara itu, pemilik usaha biasanya sudah sibuk mengurus produksi, sehingga SEO, iklan, dan analitik sering tertunda karena tidak ada waktu atau orang yang paham.

2. Mengapa Digital Marketing Penting?

Cara orang mencari dan memilih produk sudah berubah. Dengan penetrasi internet 80,66% menurut APJII, sebagian besar calon pembeli kini mulai dari ponsel: mencari di Google, melihat Google Maps, membuka Instagram, lalu bertanya lewat chat. Ekonomi digital Indonesia sendiri diperkirakan mendekati US$100 miliar pada 2025, tumbuh sekitar 14%.

Artinya, usaha yang tidak bisa ditemukan dan tidak mudah dihubungi akan kalah dari yang bisa, walaupun produknya sama bagusnya. Digital marketing bukan soal ikut tren, melainkan memastikan pembeli menemukan jalan menuju produk kita.

3. Penerapan Digital Marketing di Keripik Nafisa

Perjalanan ini tidak dimulai dari agensi. Website Keripik Nafisa lahir dari tugas kuliah, lalu terus dikembangkan. Ceritanya ada di Dari Tugas Kuliah ke Website. Sekarang alurnya kami susun seperti ini:

Google & SEOMembantu produk ditemukan
InstagramMembangun awareness
Website NafisaInformasi dan katalog produk
WhatsAppKonsultasi dan pemesanan
Pengukuran aktivitas digital: Google Analytics 4 + Google Tag ManagerMemantau kunjungan, interaksi, dan klik menuju WhatsApp

Tantangannya jujur saja: skala masih kecil, sumber daya terbatas, dan tidak semua tahap bisa diukur otomatis. Karena itu kami memilih langkah kecil yang bisa dievaluasi, bukan langsung membakar anggaran.

4. Website dan SEO sebagai Etalase Digital

Media sosial itu “numpang”, sedangkan website adalah rumah sendiri. Kami membuat katalog per varian, halaman lokasi toko, dan halaman kontak. Kami juga menyiapkan kebijakan pengembalian yang jelas, karena kepercayaan pembeli baru sering ditentukan oleh hal-hal seperti ini.

Untuk SEO, pendekatannya sederhana: menulis untuk pertanyaan yang benar-benar dicari orang, misalnya oleh-oleh khas Singkawang atau keripik sukun, bukan sekadar mengulang nama merek. Artikel seperti cara menghitung HPP keripik juga membantu menunjukkan bahwa usaha ini dikelola serius. Google Search Console dipakai untuk memantau kata kunci mana yang mulai muncul. SEO butuh waktu, jadi kami membacanya sebagai proses, bukan hasil instan.

5. Media Sosial dan WhatsApp

Instagram berperan sebagai etalase visual: foto produk, proses produksi, dan interaksi dengan pengikut. Tujuannya membangun awareness, bukan langsung menjual. Kami juga mencoba Meta Ads dalam skala kecil untuk menguji pesan dan visual mana yang membuat orang tertarik bertanya.

WhatsApp menjadi muara semuanya, karena pembeli lokal terbiasa bertransaksi lewat chat. Tombol “Pesan” ada di header, beranda, katalog, dan artikel, ditambah form pesanan yang otomatis menyusun pesan WhatsApp yang rapi lengkap dengan varian dan ukuran.

6. Mengukur Pemasaran dengan Data

Tanpa pengukuran, digital marketing hanya terasa seperti kesibukan. Kami memakai Google Tag Manager untuk mencatat interaksi penting, lalu Google Analytics 4 untuk membacanya: klik WhatsApp dari header, katalog, halaman tentang, dan footer, klik telepon, serta pengisian form. Pencatatan ini memungkinkan kami melihat halaman dan tombol mana yang benar-benar mendorong orang menghubungi.

Namun tiap lapisan data punya arti berbeda dan sebaiknya dipisahkan:

Lapisan dataYang dipantauCara mencatat
TrafficKunjungan dan halaman yang dibukaGA4, Search Console
Klik WhatsAppMinat untuk bertanya atau memesanGTM + GA4
PercakapanChat yang benar-benar masuk dan dibalasCatatan di WhatsApp Business
TransaksiPesanan yang benar-benar terjadiPencatatan penjualan manual
Catatan penting. Klik WhatsApp bukan berarti penjualan. Karena itu saya tidak mengklaim adanya peningkatan penjualan dari aktivitas di atas: data klik belum otomatis menjadi percakapan, dan percakapan belum tentu menjadi transaksi. Sebagian traffic juga bisa berasal dari bot, jadi data perlu dibaca dengan hati-hati.

7. Pelajaran untuk UMKM Singkawang

Kalau harus diringkas menjadi langkah praktis untuk usaha kecil:

Mulai dari WhatsAppUkur sebelum beriklanTulis sesuai pertanyaan pembeliRapikan Google MapsCatat biaya produksiKonsisten, bukan sekaligus

Ingin ngobrol soal digital marketing untuk UMKM?
Saya senang berbagi pengalaman dan belajar dari usaha lokal lain.

Terhubung di LinkedIn

Penutup

Digital marketing untuk UMKM tidak harus mahal atau rumit. Mulailah dari yang paling dekat dengan pembeli: bisa ditemukan di Google, punya etalase yang jelas, mudah dihubungi lewat WhatsApp, lalu ukur apa yang terjadi. Dari pengalaman di Keripik Nafisa, bagian tersulit justru bukan alatnya, melainkan kebiasaan mencatat dan membaca data secara jujur.

Referensi

Scroll to Top