
Di Singkawang, hampir setiap gang punya usaha makanan yang enak. Tapi coba cek di Google: berapa banyak dari mereka yang bisa ditemukan, dipesan, dan dipercaya hanya dari layar ponsel? Di sinilah banyak UMKM tertinggal. Produknya bagus, tetapi etalasenya masih terbatas pada rak toko dan obrolan dari mulut ke mulut.
Saya Hanif, praktisi performance marketing yang sehari-hari mengurus iklan, SEO, dan analitik. Salah satu tempat belajar saya adalah usaha yang dekat sekali dengan rumah: Keripik Nafisa Singkawang. Artikel ini membahas apa yang kami jalankan, alat apa yang dipakai, dan apa yang belum bisa kami simpulkan.
1. Tantangan UMKM Singkawang di Era Digital
Singkawang punya banyak usaha makanan dan oleh-oleh yang enak. Masalahnya bukan di rasa, melainkan di tiga hal: persaingan, jangkauan, dan kemampuan pemasaran.
Persaingan makin ramai karena berjualan daring semakin mudah. Laporan e-Conomy SEA 2025 mencatat jumlah penjual dan toko daring di Indonesia naik sekitar 75% dalam setahun, menjadi sekitar 800 ribu. Jangkauan sebagian besar UMKM masih terbatas pada rak toko, wisatawan yang kebetulan mampir, dan promosi dari mulut ke mulut. Sementara itu, pemilik usaha biasanya sudah sibuk mengurus produksi, sehingga SEO, iklan, dan analitik sering tertunda karena tidak ada waktu atau orang yang paham.
2. Mengapa Digital Marketing Penting?
Cara orang mencari dan memilih produk sudah berubah. Dengan penetrasi internet 80,66% menurut APJII, sebagian besar calon pembeli kini mulai dari ponsel: mencari di Google, melihat Google Maps, membuka Instagram, lalu bertanya lewat chat. Ekonomi digital Indonesia sendiri diperkirakan mendekati US$100 miliar pada 2025, tumbuh sekitar 14%.
Artinya, usaha yang tidak bisa ditemukan dan tidak mudah dihubungi akan kalah dari yang bisa, walaupun produknya sama bagusnya. Digital marketing bukan soal ikut tren, melainkan memastikan pembeli menemukan jalan menuju produk kita.
3. Penerapan Digital Marketing di Keripik Nafisa
Perjalanan ini tidak dimulai dari agensi. Website Keripik Nafisa lahir dari tugas kuliah, lalu terus dikembangkan. Ceritanya ada di Dari Tugas Kuliah ke Website. Sekarang alurnya kami susun seperti ini:
Tantangannya jujur saja: skala masih kecil, sumber daya terbatas, dan tidak semua tahap bisa diukur otomatis. Karena itu kami memilih langkah kecil yang bisa dievaluasi, bukan langsung membakar anggaran.
4. Website dan SEO sebagai Etalase Digital
Media sosial itu “numpang”, sedangkan website adalah rumah sendiri. Kami membuat katalog per varian, halaman lokasi toko, dan halaman kontak. Kami juga menyiapkan kebijakan pengembalian yang jelas, karena kepercayaan pembeli baru sering ditentukan oleh hal-hal seperti ini.
Untuk SEO, pendekatannya sederhana: menulis untuk pertanyaan yang benar-benar dicari orang, misalnya oleh-oleh khas Singkawang atau keripik sukun, bukan sekadar mengulang nama merek. Artikel seperti cara menghitung HPP keripik juga membantu menunjukkan bahwa usaha ini dikelola serius. Google Search Console dipakai untuk memantau kata kunci mana yang mulai muncul. SEO butuh waktu, jadi kami membacanya sebagai proses, bukan hasil instan.
5. Media Sosial dan WhatsApp
Instagram berperan sebagai etalase visual: foto produk, proses produksi, dan interaksi dengan pengikut. Tujuannya membangun awareness, bukan langsung menjual. Kami juga mencoba Meta Ads dalam skala kecil untuk menguji pesan dan visual mana yang membuat orang tertarik bertanya.
WhatsApp menjadi muara semuanya, karena pembeli lokal terbiasa bertransaksi lewat chat. Tombol “Pesan” ada di header, beranda, katalog, dan artikel, ditambah form pesanan yang otomatis menyusun pesan WhatsApp yang rapi lengkap dengan varian dan ukuran.
6. Mengukur Pemasaran dengan Data
Tanpa pengukuran, digital marketing hanya terasa seperti kesibukan. Kami memakai Google Tag Manager untuk mencatat interaksi penting, lalu Google Analytics 4 untuk membacanya: klik WhatsApp dari header, katalog, halaman tentang, dan footer, klik telepon, serta pengisian form. Pencatatan ini memungkinkan kami melihat halaman dan tombol mana yang benar-benar mendorong orang menghubungi.
Namun tiap lapisan data punya arti berbeda dan sebaiknya dipisahkan:
| Lapisan data | Yang dipantau | Cara mencatat |
|---|---|---|
| Traffic | Kunjungan dan halaman yang dibuka | GA4, Search Console |
| Klik WhatsApp | Minat untuk bertanya atau memesan | GTM + GA4 |
| Percakapan | Chat yang benar-benar masuk dan dibalas | Catatan di WhatsApp Business |
| Transaksi | Pesanan yang benar-benar terjadi | Pencatatan penjualan manual |
7. Pelajaran untuk UMKM Singkawang
Kalau harus diringkas menjadi langkah praktis untuk usaha kecil:
Ingin ngobrol soal digital marketing untuk UMKM?
Saya senang berbagi pengalaman dan belajar dari usaha lokal lain.
Penutup
Digital marketing untuk UMKM tidak harus mahal atau rumit. Mulailah dari yang paling dekat dengan pembeli: bisa ditemukan di Google, punya etalase yang jelas, mudah dihubungi lewat WhatsApp, lalu ukur apa yang terjadi. Dari pengalaman di Keripik Nafisa, bagian tersulit justru bukan alatnya, melainkan kebiasaan mencatat dan membaca data secara jujur.
Referensi
- Selular.ID (2025). APJII: Penetrasi Internet Indonesia Capai 80,66% di 2025.
- Selular.ID (2025). Survei APJII Beberkan Media Sosial Terpopuler di Indonesia 2025.
- Bisnis.com (7 Maret 2024). Jokowi Beberkan Jasa Besar UMKM Dukung Perekonomian RI.
- Bisnis.com (7 Agustus 2025). Akumindo: Kalau UMKM Kolaps, Ekonomi Bisa Ambruk.
- Google Indonesia (13 November 2025). e-Conomy SEA 2025: Ekonomi digital Indonesia mendekati GMV US$100 miliar tahun ini.

