Beranda » 24 Ribu UMKM di Singkawang: Bagaimana Keripik Lokal Bisa Menonjol?
Beranda » 24 Ribu UMKM di Singkawang: Bagaimana Keripik Lokal Bisa Menonjol?
Poster artikel: 24 Ribu UMKM di Singkawang, data dan studi kasus Keripik Nafisa oleh Hanif Al Aslam

24 Ribu UMKM di Singkawang: Bagaimana Keripik Lokal Bisa Menonjol?

Hanif Al Aslam mengenakan polo hitam dengan pose tangan menyilang
Hanif Al AslamPerformance Marketing | Ads Specialist · Assistant Mentor Digital Marketing di Harisenin.comLihat profil penulis →

Di rumah kami ada usaha keripik: Keripik Nafisa, di Setapuk Besar, Singkawang Utara. Sejak Maret 2023 saya ikut mengurus sisi digitalnya, mulai dari website sampai pencatatan data. Pertanyaan yang paling sering saya pikirkan sederhana: di kota dengan puluhan ribu usaha kecil, bagaimana keripik lokal bisa dikenali dan dipilih?

Artikel ini menggabungkan dua hal: data resmi tentang UMKM Singkawang sebagai peta, dan apa yang sudah kami lakukan sebagai studi kasus. Saya sengaja menyebut sumber, tahun, dan batasan tiap angka, termasuk bagian yang belum bisa kami buktikan.

24.514UMKM tercatat di Kota Singkawang (data 31 Juli 2023, Dinas Koperasi dan UKM Kalbar)
82%di antaranya usaha mikro (20.182 usaha)
20varian keripik Nafisa dari sukun, keladi, ubi, dan pisang (halaman produk)

1. Berapa Sebenarnya UMKM di Singkawang?

Jawabannya tergantung siapa yang menghitung. Sebuah jurnal pengabdian masyarakat Universitas Tanjungpura (2023) mengutip pemberitaan Tribun Pontianak bahwa pada 2022 ada sekitar 12.000 UMKM di Singkawang. Di bagian lain jurnal yang sama, rekapitulasi Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kalimantan Barat per 31 Juli 2023 mencatat 24.514. Karena angka kedua dirinci per skala usaha, saya memakainya sebagai dasar.

Skala usahaSingkawangSeluruh KalbarPorsi Singkawang
Mikro20.182193.77210,4%
Kecil3.76628.82213,1%
Menengah5663.11918,1%
Jumlah24.514225.71310,9%

Singkawang berada di peringkat ketiga Kalimantan Barat dari jumlah UMKM, setelah Pontianak (43.247) dan Landak (35.149). Usaha mikro dominan, tetapi porsi usaha kecil dan menengahnya relatif lebih besar: kota ini hanya 10,9% dari seluruh UMKM Kalbar, namun 18,1% dari usaha menengahnya. Data itu tidak memisahkan usaha makanan, apalagi keripik, jadi jumlah pesaing langsung tidak bisa saya sebutkan.

Catatan data. Teks jurnal tersebut menyebut 41.083 usaha mikro sebagai milik Singkawang. Tabel di jurnal yang sama menunjukkan angka itu milik Kota Pontianak. Saya memakai angka dari tabel: periksa tabelnya, bukan hanya kalimatnya.

2. Apa Kata Data: Peluang dan Hambatannya

Data punya dua sisi. Laporan Kinerja 2024 Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan UKM Kota Singkawang cukup terus terang soal hambatan industri kecil menengah. Di sisi lain, pasarnya ada dan terhubung internet.

Hambatan: pemasaranakses pemasaran dan media promosi IKM disebut masih terbatas (Laporan Kinerja 2024)
Hambatan: mutumutu dan daya saing produk IKM disebut masih kurang (Laporan Kinerja 2024)
46,15%porsi pengeluaran per kapita Singkawang 2025 untuk makanan: Rp913.431 dari Rp1.979.166 per bulan (Susenas)
1 jutatarget kunjungan wisatawan Festival Cap Go Meh 2026. Ini target, bukan realisasi
80,59%penetrasi internet Kalimantan Barat (APJII 2026)
20 UMKMmakanan dan minuman Singkawang bersertifikat halal pada pertengahan 2023; target 400 akhir 2023 (BPJPH Kalbar)

Singkatnya: pembeli ada, mereka mengeluarkan hampir separuh anggarannya untuk makanan, dan sebagian besar sudah online. Pekerjaan rumahnya ada di pemasaran dan mutu. Di titik itulah studi kasus kami dimulai.

3. Studi Kasus: Keripik Nafisa dari Setapuk Besar

Keripik Nafisa bermula dari dapur kecil di Setapuk Besar. Bahan lokal seperti singkong, pisang, keladi, ubi, dan sukun diolah menjadi keripik. Awalnya penjualannya mengandalkan toko dan titipan di warung sekitar. Promosi digital baru menyusul.

Sekarang katalog kami memuat 20 varian dengan rasa original, balado, jagung bakar, dan jagung manis, serta beberapa rasa khusus seperti ubi ungu dan pisang asin. Pada saat artikel ini ditulis, harga per bungkus 500 gram berkisar Rp25.000 sampai Rp50.000. Setelah kisah kami diangkat Tribun Pontianak, kami menerima pesanan dari perantau Indonesia di Malaysia, awalnya untuk konsumsi pribadi lalu dalam partai kecil. Ceritanya ada di artikel ini.

Skalanya masih kecil. Justru karena kecil, kami memilih langkah-langkah yang bisa dicatat dan dievaluasi, bukan langsung membakar anggaran.

4. Lima Hal yang Sudah Kami Lakukan

Berikut yang sudah kami kerjakan, dihubungkan dengan hambatan yang muncul di data tadi.

1

Membuat etalase yang bisa ditemukan. Website kami memuat katalog per varian, halaman lokasi toko, dan halaman kontak. Pembeli dan wisatawan bisa mencari, melihat varian, lalu datang. Toko buka setiap hari pukul 07.30 sampai 20.00 WIB di Jl. Demang Akub No. 35, Setapuk Besar.

2

Membuat pemesanan semudah chat. Tombol WhatsApp ada di header, katalog, dan artikel. Form pesanan menyusun pesan lengkap dengan varian dan ukuran, karena pembeli lokal terbiasa bertransaksi lewat chat.

3

Menulis untuk pertanyaan pembeli. Kami menulis hal yang benar-benar dicari orang, misalnya fakta gizi keripik keladi, keripik sukun khas Kalimantan Barat, dan itinerary wisata Singkawang satu hari, bukan sekadar mengulang nama merek.

4

Mencatat dengan jujur. Kami memakai Google Analytics 4 dan Google Tag Manager untuk mencatat klik WhatsApp dan kunjungan. Klik bukan penjualan, jadi kami tidak mengklaim kenaikan omzet. Caranya kami bahas di artikel digital marketing UMKM Singkawang.

5

Menghitung biaya dengan benar. Pada penelitian HPP Keripik Nafisa, HPP keripik ubi tercatat Rp44.744 dengan Full Costing dan Rp39.327 dengan Activity Based Costing, sekitar 12% lebih rendah hanya karena cara menghitungnya (Nurhidayanti, 2025).

Penasaran dengan rasanya?

Pilih dari 20 varian keripik sukun, keladi, ubi, dan pisang. Tanya harga dan stok langsung lewat WhatsApp, atau datang ke toko kami di Setapuk Besar.

Pesan via WhatsAppLihat 20 Varian

5. Yang Belum Bisa Kami Buktikan

Beberapa hal tidak bisa saya simpulkan, dan ini penting dicatat:

  • Kami tidak mengklaim bahwa lima langkah di atas meningkatkan penjualan. Klik WhatsApp belum otomatis menjadi percakapan, dan percakapan belum tentu menjadi transaksi.
  • Data jumlah UMKM yang dipakai adalah per Juli 2023, dan tidak memisahkan usaha makanan atau keripik.
  • Angka 1 juta pengunjung Cap Go Meh 2026 adalah target. Realisasinya belum saya temukan.
  • Dua hal lain layak dicek oleh setiap UMKM keripik, termasuk kami: legalitas dan sertifikat halal, serta uji umur simpan pada kemasan yang dipakai.

Penutup

Data memberi peta: Singkawang ramai usaha kecil, pembelinya terhubung internet, dan pemasaran serta mutu masih menjadi tantangan. Studi kasus kami memberi pelajaran praktis: etalase yang jelas, pemesanan semudah chat, tulisan yang menjawab pertanyaan pembeli, pencatatan yang jujur, dan harga yang dihitung dengan benar.

Kalau Anda ingin merasakan hasil kerja dapur kami, silakan lihat 20 varian keripik Nafisa atau datang ke toko kami. Kalau Anda pelaku UMKM yang ingin berdiskusi tentang digital marketing, saya senang berbagi lewat halaman penulis.

Referensi

Astarani, J., Hendri, M. I., Yanto, Muhsin, & Brata, H. (2023). Implementasi Aplikasi Pengelolaan Keuangan dan Manajemen Usaha Berbasis Digital untuk Optimalisasi Pengelolaan Keuangan UMKM di Kota Singkawang. Abdi Equator, 3(2), 121-128. Tautan

Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan UKM Kota Singkawang. (2024). Laporan Kinerja Tahun 2024. Tautan

Databoks Katadata. (25 Juli 2026). Pengeluaran per Kapita Kota Singkawang 2025 (Susenas, BPS). Tautan

Antara News. (2026). Singkawang targetkan 1 juta kunjungan wisatawan pada festival Cap Go Meh 2026. Tautan

GoodStats. (2026). 10 Provinsi Luar Jawa dengan Tingkat Penetrasi Internet Terbesar 2026 (APJII). Tautan

Nurhidayanti. (2025). Analisis Penentuan Harga Pokok Produksi dengan Metode Full Costing dan Activity Based Costing dalam Penentuan Harga Jual Produk. PERMANA, 17(3), 1016-1028. Tautan

Scroll to Top