Beranda » 6 Jajanan Singkawang yang Bikin Kangen: Dari Choipan sampai Bubur Pedas
Beranda » 6 Jajanan Singkawang yang Bikin Kangen: Dari Choipan sampai Bubur Pedas
Ilustrasi kukusan choipan dan semangkuk bubur pedas khas Singkawang

6 Jajanan Singkawang yang Bikin Kangen: Dari Choipan sampai Bubur Pedas

Hanif Al Aslam mengenakan polo hitam dengan pose tangan menyilang
Hanif Al AslamPerformance Marketing | Ads Specialist · Assistant Mentor Digital Marketing di Harisenin.comLihat profil penulis →
606.663pengunjung Cap Go Meh Singkawang 2023 (Kemenparekraf)
3 tahunberturut-turut jadi kota paling toleran, 2021 sampai 2023 (Setara Institute)
3 budayaTionghoa, Melayu, dan Dayak bertemu di satu piring

Coba bayangkan: pagi-pagi, uap panas naik dari panci bubur, bau bawang goreng menyebar sampai ke trotoar, dan penjualnya sudah hafal siapa yang biasa minta cabai ekstra. Singkawang memang kecil, tapi urusan jajan, kota ini serius. Tidak heran, tahun 2023 saja perayaan Cap Go Meh di sini didatangi 606.663 pengunjung menurut data Kemenparekraf, dan banyak dari mereka datang bukan hanya untuk atraksi, tapi juga untuk makan.

Yang bikin jajanannya unik adalah ceritanya. Singkawang tiga tahun berturut-turut (2021 sampai 2023) menempati peringkat pertama kota paling toleran di Indonesia versi Setara Institute, dengan skor 6,500. Warga Tionghoa, Melayu, dan Dayak hidup berdampingan, dan itu terasa sampai ke dapur. Satu piring jajanan sering membawa jejak dua atau tiga budaya sekaligus. Kali ini kami ajak kamu keliling enam jajanan yang layak masuk daftar, dari yang gurih, pedas, sampai yang renyah untuk dibawa pulang.

1. Choipan: Kue Mungil Isi Sayur yang Bikin Nagih

Kalau harus memilih satu ikon, jawabannya choipan. Nama “choi” berarti sayuran dan “pan” berarti kue, jadi kira-kira kue berisi sayur. Jajanan ini dibawa masyarakat Tionghoa suku Teochew yang banyak menetap di Kalimantan Barat, dan identik dengan Singkawang dan Pontianak.

Bentuknya mirip pastel tapi lebih mungil. Kulitnya dari tepung beras dengan tambahan tapioka atau sagu, jadi kenyal dan sedikit bening. Isinya biasanya bengkoang, talas atau keladi, dan daun kucai. Choipan umumnya dikukus, ditaburi bawang putih goreng, lalu dicocol saus pedas. Ada juga yang mengukus lalu menggorengnya sebentar supaya lebih harum.

Fakta kecil: keladi yang ada di dalam choipan sama dengan keladi yang kami iris tipis jadi keripik di Keripik Nafisa. Bahan lokal yang sama, hanya cara pengolahannya yang berbeda.

2. Bubur Gunting: Sarapan Manis yang Lembut

Namanya lucu karena cakwe-nya digunting kecil-kecil. Buburnya dari kacang hijau dengan daun pandan, jadi harum dan manisnya alami. Lalu cakwe goreng yang digunting ditaburkan di atas, sehingga ada sensasi renyah di tengah bubur yang lembut. Ini sarapan tradisional yang pas untuk memulai hari tanpa terasa berat.

3. Bubur Pedas Bendahre: Gurih, Pedas, dan Penuh Aroma

Kalau bubur gunting manis, yang satu ini lawannya. Bubur pedas dibuat dari beras yang disangrai dulu, sehingga warnanya lebih gelap dan aromanya kuat. Di atasnya ada daun kesum yang segar dan sedikit pedas, ikan teri, serta kacang goreng. Banyak orang menikmatinya bersama es Shanghai, minuman dingin yang menyegarkan setelah pedasnya terasa.

4. Rujak Thai Pui Jie: Manis, Asin, dan Sedikit Pedas

Rujak buah ini mirip rujak yang kamu kenal, tapi dengan tambahan udang kering dan kerupuk melinjo. Hasilnya, rasa gurih, manis, dan sedikit pedas berpadu jadi satu. Pilihan paling pas saat siang terik, ketika kamu butuh sesuatu yang segar dan cukup “nendang”.

5. Mie Tiau Asuk: Mie Lebar yang Segar Berkat Jeruk

Mie tiau atau kwetiau lebar disajikan bersama tauge, telur, sayuran, dan kecap, lalu diperas jeruk limau supaya terasa segar. Nama “asuk” berasal dari bahasa Hakka yang berarti paman. Sederhana, tapi justru itu yang membuatnya jadi favorit banyak orang.

6. Keripik Lokal: Jajanan yang Bisa Dibawa Pulang

Setelah kenyang mencoba semua di atas, jangan pulang dengan tangan kosong. Camilan renyah dari bahan lokal seperti sukun, keladi, ubi, dan pisang adalah oleh-oleh yang awet dan mudah dibawa. Kamu bisa melihat pilihan rasanya di halaman produk Keripik Nafisa, dari balado, jagung bakar, sampai jagung manis.

Ringkasan: Mana yang Cocok untuk Kamu?

JajananRasaCocok untuk
ChoipanGurih, kenyal, pedas sausCamilan kapan saja
Bubur guntingManis, lembut, renyahSarapan
Bubur pedasGurih, pedas, harumMakan berat
Rujak Thai Pui JieManis, asin, pedasSiang yang panas
Mie tiau asukGurih, segar jerukMakan siang atau malam
Keripik lokalRenyah, gurihOleh-oleh

Rute Jajan Sehari yang Bisa Kamu Coba

Biar tidak bingung, begini urutan yang enak: mulai dengan bubur gunting di pagi hari, lanjut choipan sebagai camilan menjelang siang, makan siang dengan mie tiau asuk, selingi rujak saat cuaca panas, lalu tutup dengan bubur pedas dan es Shanghai di sore atau malam. Besok paginya, bawa pulang keripik untuk keluarga di rumah. Kalau mau sekalian jalan-jalan, lihat juga itinerary wisata Singkawang sehari.

Penutup

Jajanan di Singkawang bukan sekadar urusan perut. Di setiap suapan ada cerita tentang orang-orang yang berbeda budaya tapi berbagi dapur dan meja yang sama. Kalau suatu hari kamu mampir ke Singkawang, jangan cuma foto di depan kelenteng. Cicipi juga jajanannya, karena di situlah kota ini paling jujur memperkenalkan dirinya.

Sumber

Scroll to Top